Senin 13 Oktober 2025, Ketua Program Studi Geofisika, FMIPA UI, menerima kunjungan dari BPBD Kabupaten Bogor.

Kunjungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bogor dipimpin oleh Mayestica Fortuna Vitalia, selaku Ketua Tim Pencegahan. Beliau didampingi oleh Staf BPBD yaitu Lena Widya dan Arif Restu Fauji. Sementara selaku tuan rumah adalah Supriyanto (Kaprodi S1 Geofisika), Sukarno dan Adde Nugroho. Rombongan BPBD Kab. Bogor diterima di Laboratorium Kebencanaan Kebumian di lantai Mezanine, Gedung A, FMIPA UI. Pertemuan atau diskusi berlangsung hangat dari pukul 10.15 WIB sampai dengan 12.10 WIB.
Kunjungan ini merupakan tindak-lanjut dari pertemuan perdana tgl 10 September 2025, dimana saat itu tim dari BPBD Kab. Bogor berkesempatan mengunjungi stand EWAS by Geosains FMIPA UI di ajang Pameran Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2025 di JIEXpo, Kemayoran, Jakarta.
Kabupaten Bogor adalah “hotspot” bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, puting beliung) yang sangat signifikan di Jawa Barat. Kerawanannya didorong oleh kombinasi faktor geografis (curah hujan tinggi, topografi beragam) dan antropogenik (tekanan populasi dan pembangunan). Berdasarkan data dan klasifikasi risiko bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kabupaten Bogor memang termasuk salah satu wilayah yang memiliki risiko bencana alam yang TINGGI di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Barat.
Oleh karena itu, kesadaran akan mitigasi bencana, mematuhi peraturan tata ruang, dan membangun budaya siaga bencana menjadi hal yang sangat krusial bagi pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Bogor.

Suasana diskusi saat menerima kunjungan dari BPBD Kab.Bogor

Tim BPBD Kab.Bogor mengunjungi stand EWAS di ADEXCO 2025 di Hall B, JIEXpo Convention Centre Kemayoran, Jakarta
Mayestica Fortuna Vitalia berharap agar kedepan bisa disepakati kerjasama antara FMIPA UI dan BPBD Kab. Bogor dalam upaya pencegahan dan pengurangan resiko bencana di Kab. Bogor dengan menerapkan teknologi mitigasi bencana alam yang dikembangkan oleh Geosains FMIPA UI. “Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan, dan tentunya sangat menyambut baik rencana ini”, balas Supriyanto.
Laboratorium Kebencanaan Kebumian G&G FMIPA UI, sejak 2018, telah mengembangkan sejumlah peralatan mitigasi bencana kebumian, seperti EWAS (Earthquake Warning Alert System), Pantir (Pemantau tinggi muka air sungai dan muka air tanah), Sora (Sistem Observasi Udara), Si-Cuhal (Sistem Informasi Curah Hujan Lokal) dan Pagar Kaca (Pendeteksi Gas Rumah Kaca).

Adde Nugroho sedang menjelaskan cara kerja dari alat pemantau tinggi muka air sungai
Hampir seluruh wilayah Kabupaten Bogor (95%) dinyatakan memiliki risiko tinggi terhadap bencana banjir dan longsor. Kejadian bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, puting beliung) terjadi hampir setiap hari jika dirata-ratakan sepanjang tahun, dengan total kejadian mencapai ratusan kali per tahun. Ratusan ribu jiwa tinggal di zona rawan dan ribuan rumah serta hektar lahan pertanian terdampak setiap tahunnya.
Oleh karena itu, dari sisi kuantitatif, Kabupaten Bogor memang valid dikategorikan sebagai salah satu wilayah dengan kerawanan bencana alam tertinggi di Indonesia, khususnya untuk bencana hidrometeorologi. Data-data ini memperkuat perlunya upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang sistematis dan berkelanjutan.
BPBD Kab. Bogor membuka peluang kerja sama untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dan penelitian termasuk skripsi, oleh civitas akademik G&G FMIPA UI sebagai upaya pengurangan resiko bencana seperti edukasi kebencanaan, studi geoteknik dan lingkungan, serta pemasangan alat-alat mitigasi bencana. “Kami membutuhkan hasil kajian atau hasil studi dari Universitas Indonesia agar kami memperoleh informasi yang lebih lengkap sebagai dasar kebijakan pembangunan berbasis resiko di wilayah Kabupaten Bogor”, kata Mayestica saat menutup diskusi.

Data logger berbasis IoT (Internet of Thing) yang dikembangkan di Laboratorium Kebencanaan Kebumian G&G FMIPA UI