Sistem Informasi Cuaca Harian Lokal (Si-Cuhal)

Petani anggota PPTPI sedang memasang alat pantau Si-Cuhal di suatu lahan sawah di Desa Mulyasari, Kec. Bango Dua, Kab. Indramayu, Jawa Barat 

Sistem Informasi Cuaca Harian Lokal

Si-Cuhal

Sektor pertanian dan perkebunan adalah aktivitas manusia yang sangat dipengaruhi cuaca. Dalam teknik pertanian presisi (precision farming) cuaca adalah faktor penting untuk mengoptimalkan hasil pertanian.

Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI) di Indramayu, Jawa Barat merupakan kelompok petani yang menerapkan ilmu agrometeorologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian mereka. Setiap hari pukul 07.00 pagi, terutama setelah turun hujan, para petani secara rutin mengukur dan mencatat curah hujan menggunakan omplong – sebuah alat modifikasi sederhana dari ombrometer. Mereka tidak hanya mencatat jumlah curah hujan, tetapi juga mengamati dampaknya terhadap tanaman padi, kondisi tanah, serta potensi serangan hama.

Pencatatan data ini menjadi sangat penting karena tanaman padi sangat bergantung pada ketersediaan air selama masa pertumbuhannya. Dalam beberapa tahun terakhir, data curah hujan yang mereka kumpulkan telah membantu menentukan strategi tanam di awal musim. Namun tantangan utama yang dihadapi adalah semakin tidak menentunya pola cuaca dan seringnya terjadi ledakan hama, yang sering berujung pada gagal panen dan membuat petani semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Untuk mendapatkan gambaran yang akurat tentang pola perubahan iklim, para petani harus secara konsisten mencatat data curah hujan setiap hari, minggu, bulan, bahkan tahunan. Selama ini pencatatan dilakukan secara manual di buku folio bergaris, kemudian data tersebut divisualisasikan dalam bentuk grafik pada kertas karton berukuran besar. Konsistensi pencatatan tanpa ada data yang terlewat sangat krusial, karena dari kumpulan data individual petani inilah dapat terbentuk big data yang bermanfaat bagi seluruh petani dalam sebuah kecamatan.

Menyadari keterbatasan pencatatan manual, sejumlah ahli geofisika di Departemen Geosains, FMIPA Universitas Indonesia, kemudian mengembangkan Si-Cuhal, sebuah sistem berbasis Internet of Things (IoT) yang membantu petani dalam mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data cuaca secara lebih efisien dan akurat. Inovasi ini menjadi solusi penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.