5 Fakta Mengejutkan dari Gempa Dalam Jepara 2020: Pesan dari Kedalaman 560 Kilometer di Bawah Jawa

Kita sering membayangkan gempa sebagai peristiwa yang terjadi di dekat permukaan bumi. Namun bagaimana jika sumber guncangan itu datang dari kedalaman ratusan kilometer, dari lapisan bumi yang bahkan tak pernah kita bayangkan bisa retak?

Pada 7 Juli 2020, sebuah gempa bermagnitudo Mw 6,7 mengguncang dari kedalaman ekstrem di utara Jepara, Jawa Tengah. Gempa ini begitu dalam hingga para peneliti menyebutnya sebagai “jendela” untuk mengintip proses misterius di perut bumi. Studi terbaru berjudul “Unveiling the dynamics of deep-focus earthquakes: Insights from the 2020 Jepara event Mw 6.7 and subduction processes beneath Java”, ditulis oleh peneliti dari BRIN, BMKG, UI, TDMRC, dan Universitas Brawijaya, mengungkapkan lima fakta mengejutkan yang mengubah cara kita memahami ancaman gempa di Indonesia.

Salah satu penulis studi, Anne Meylani Magdalena Sirait (Dosen Geofisika FMIPA UI), menjelaskan bahwa gempa dalam memiliki karakteristik paradox, “Guncangannya lebih lemah tetapi jangkauannya justru lebih luas. Karena sumbernya sangat dalam, getarannya bisa merambat jauh hingga wilayah yang selama ini dianggap aman dari gempa.”

Lalu, apa saja temuan penting dari gempa Jepara 2020? Inilah rangkumannya.

Gambar: Peta seismisitas dan tektonik Pulau Jawa menunjukkan distribusi gempa yang dirasakan selama 50 tahun terakhir. Beberapa gempa kuat dan merusak yang pernah terjadi di wilayah Jawa antara lain Gempa Bantul 2006 M 5,9, Pangandaran 2006 M 7,7, Tasikmalaya 2009 M 7,0 dan 2017 M 6,9, Lebak 2018 M 6,1, Banten 2019 M 6,9, Jepara 2020 M 6,7, serta Malang 2021 M 6,1 (Setiadi dkk., 2025).

  1. Gempa Sangat Dalam Ternyata Terasa Lebih Jauh

Gempa Jepara terjadi pada kedalaman sekitar 560 km, menjadikannya salah satu gempa dalam terbesar dalam satu dekade terakhir. Meski sangat dalam, getarannya dirasakan luas, dari Jawa (MMI IV–V) hingga Sumatra, Bali, dan Lombok (MMI II–IV).

Mengapa bisa sejauh itu?

Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Jawa bersifat dingin dan padat. Ia bekerja seperti batang logam panjang yang menyalurkan getaran jauh tanpa kehilangan energi. Jika gempa dangkal seperti suara yang cepat meredam di udara, gempa dalam adalah getaran yang “mengalir” melalui logam, menjangkau tempat-tempat yang jauh dari pusatnya. Anne Sirait menegaskan, “Sumber yang sangat dalam justru memperkuat penyebaran gelombang seismik, mengakibatkan guncangan signifikan di lokasi yang jauh dari episentrum.”

Gambar: Diagram skematik ini menjelaskan tektonik subduksi Pulau Jawa, menyoroti aktivitas seismik pada zona outer-rise, antarmuka (interface), intraslab, dan gempa dalam (deep-focus). Formasi geologi seperti palung, gunung bawah laut (seamount), dan prisma akresi, serta sebaran gunung api di Pulau Jawa, juga ditampilkan. Contoh gempa signifikan meliputi Gempa Malang 2021 Mw 6,4 di zona intraslab dan Gempa Jepara 2020 Mw 6,7 yang berfokus dalam dan terjadi di atas mantel (Setiadi dkk., 2025).

  1. Pemicu Gempa Dalam: Bukan Gesekan, Melainkan Transformasi Mineral dan Pelepasan Air

Di permukaan, gempa dipicu oleh patahan yang patah karena tekanan. Tetapi di kedalaman ratusan kilometer, suhu dan tekanan begitu tinggi sehingga batuan tidak lagi rapuh (brittle), melainkan plastis, mirip plastisin padat.

Jadi, apa yang memicunya?

  • Slab Dehydration

Ketika lempeng samudra masuk semakin dalam, mineralnya “memeras” air yang terperangkap. Pelepasan air ini mengurangi gesekan dan memicu slip mendadak, dan terjadilah gempa.

  • Transformasi Mineral Olivine menjadi Spinel

Mineral mantel bernama olivine berubah fase menjadi mineral lebih padat bernama spinel.

Perubahan struktur ini seperti ledakan mikro di tingkat atom karena perubahan volume yang tiba-tiba. Energi besar pun dilepaskan. Anne Sirait menjelaskan, “Perubahan volume mineral olivine dan pelepasan air pada slab yang masuk semakin dalam dapat meningkatkan stres batuan dan menghasilkan gempa.”

  1. Ada “Zona Sepi” Misterius di Bawah Jawa

Dari analisis 12 tahun data gempa, peneliti menemukan area sepi aktivitas seismik pada kedalaman 200–500 km.

Mengapa sepi?

Karena proses pelepasan air (slab dehydration) di kedalaman ini berlangsung stabil, tidak menimbulkan gempa besar. Menariknya, gempa Jepara justru terjadi tepat di bawah zona ini, pada zona transisi mantel, tempat transformasi mineral olivine–spinel terjadi. Artinya, yang paling berbahaya justru berada lebih dalam lagi.

  1. Mekanisme Patahan Bisa Berubah Drastis di Kedalaman Ekstrem

Biasanya, gempa subduksi dangkal didominasi sesar naik (thrust). Namun gempa Jepara menunjukkan mekanisme sesar normal, bahkan memiliki kemungkinan kombinasi dengan sesar geser (strike-slip).

Apa artinya?

Perubahan proses fisika di kedalaman ekstrem membuat gaya tarik-menarik pada lempeng menjadi jauh lebih kompleks. Transformasi mineral menyebabkan batuan “mengembang dan meregang”, bukan ditekan seperti pada gempa dangkal. Ini menunjukkan bahwa perut bumi jauh lebih dinamis daripada yang kita bayangkan.

  1. Data Seismik Lokal Indonesia Lebih Akurat daripada Data Global

Studi ini membuktikan bahwa jaringan seismik BMKG memberikan hasil yang jauh lebih presisi dibandingkan lembaga global seperti USGS dan GCMT. Data lokal menunjukkan magnitudo sebesar Mw 6.7 dan kedalaman fokus gempa 544–560 km. Sementara beberapa laporan global sempat memberikan parameter berbeda. Penelitian ini menunjukkan betapa vitalnya kemandirian data nasional dalam mengukur risiko gempa di Indonesia, negara dengan aktivitas seismik paling kompleks di dunia.

Gambar: Hasil mekanisme sumber dengan jenis sesar normal pada arah jurus timur–barat (Setiadi dkk., 2025).

Mengapa Kita Harus Peduli dengan Gempa Dalam?

Menurut Anne Sirait, masyarakat sering terkecoh karena gempa dalam terasa jauh dari sumbernya. Akibatnya, daerah yang selama ini dianggap “aman gempa” sebenarnya tetap memiliki risiko guncangan kuat.

Memetakan dan memahami gempa dalam adalah kunci membuat sistem peringatan dini dan peta risiko yang lebih akurat, melindungi populasi yang sangat luas dari ancaman yang tidak terduga ini.”

Gempa Jepara 2020 adalah pengingat bahwa ancaman tidak hanya datang dari patahan dekat permukaan. Di bawah kaki kita, pada kedalaman ratusan kilometer, berlangsung proses pelepasan air, transformasi mineral, dan perubahan gaya tektonik yang semuanya bisa memicu gempa besar dengan jangkauan sangat luas.

 

Penutup: Pesan dari Kedalaman Bumi

Gempa Jepara 2020 memberi kita pelajaran penting. Di kedalaman tempat cahaya matahari tak pernah mencapai, bumi ternyata hidup, berdenyut, bertransformasi, dan sesekali mengirimkan pesan melalui getaran yang kita rasakan. Pertanyaannya bukan lagi “apakah gempa akan terjadi?” melainkan “apakah kita siap saat bumi kembali berbicara?”